RENDAH HATI
Rendah hati mungkin adalah sebuah kata yang hampir hilang dari perbendaharaan bahasa kita. Hampir setiap hari kita mendengar atau menyaksikan betapa para pemimpin kita, para elit politik dan pejabat publik menunjukkan arogansi kekuasaan atau jabatannya. Pertikaian politik di antara para pemimpin sesungguhnya telah memberikan gambaran yang jelas tentang betapa mereka sungguh-sungguh merasa dirinya paling benar, paling mewakili rakyat, dan paling pelan mengerti. ★
Demikian juga dengan para pakar dan pengamat politik, ekonomi dan sosial. Semuanya berlomba-lomba untuk memberikan komentarnya kepada publik dengan rasa diri paling benar dan orang lain paling salah. Kita memang tidak perlu mengatakan bahwa saudara kita itu tinggi hati, sombong, berprofil tinggi, arogan, selalu ingin dihormati dan diistimewakan, tidak mau mendengar, tidak mau melayani, karena hal itu sama dengan kita juga tidak memiliki keren dahan hati.
Kerendahan hati merupakan salah satu bahan (ingredients) yang paling penting dalam karakter seseorang yang telah menemukan jati dirinya, di samping integritas, pasrah, hubungan memaafkan dan mengendalikan diri. Mengenai topik integritas, dan rela memaafkan telah dibahas dalam rubrik Mandiri beberapa waktu lalu. Sedangkan topik pasrah akan dibahas dalam edisi mendatang.
Kerendahan hati juga merupakan salah satu indikator dari tingginya kecerdasan spiritual seseorang. Seorang yang tidak bisa menunjukkan sikap atau karakter rendah hati, berarti belum mencapai kedamaian dengan dirinya. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Gay Hendrick, PhD dan Kate Ludeman, PhD terhadap 800-an manajer perusahaan yang mereka tangani selama 25 tahun, salah satu kesimpulannya adalah bahwa para pemimpin yang berhasil membawa perusahaan atau organisasinya ke puncak kesuksesan biasanya adalah orang yang memiliki integritas , mampu menerima kritik, rendah hati, dan mengenal dirinya dengan baik. Para pemimpin yang sukses ini ternyata memiliki kecerdasan spiritual yang jauh lebih tinggi dari manusia rata-rata. Mereka justru adalah manusia yang rendah hati. Berikut ini adalah sejumlah ciri atau ciri-ciri seseorang yang memiliki sifat rendah hati. Jika kita memiliki salah satu saja dari ciri-ciri ini, berarti kita memiliki kecerdasan spiritual yang lebih baik dibandingkan kita tidak memilikinya.
Mau Melayani
Memandang Setiap Individu Unik, Istimewa dan Penting
Mau Mendengar dan Menerima Kritik
Menang Tanpa Ngasorake, Ngalah Tapi Ora Kalah
Berani Mengakui Kesalahan dan Meminta Maaf
Rela Memaafkan
Lemah Lembut dan Penuh Pengendalian Diri
Mengutamakan Kepentingan Yang Lebih Besar
Habibi ainun
Hubungan keduanya semakin dekat dan cinta membawa mereka menikah pada 12 Mei 1962 di Bandung. Sebulan kemudian, mereka terbang ke Jerman. Tiga tahun pertama pernikahan, Rudy fokus sebagai pencari nafkah dan membangun karier. Sedangkan Ainun mengurus rumah tangga. Ainun pernah menulis surat kepada A. Makmur Makka untuk keperluan penerbitan buku Kesan dan Kenangan Setengah Abad Prof.Dr.Ing. BJ Habibie (1986). Versi lengkap surat ditampilkan pada Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan di Mata Orang-Orang Terdekat (2012). Di antara semua kejadian yang ia lalui puluhan tahun bersama Habibie, Ainun memilih untuk menulis tahun pertama pernikahan mereka. Tiga setengah tahun pertama berumah tangga adalah waktu yang sangat menantang bagi Ainun. Ainun sempat berada didera kesepian di negeri orang dan itu sungguh tidak mudah. Ia tidak punya teman bicara. Habibie kerja sampai larut malam agar bisa lancar mendapat promosi pekerjaan. “Penghasilan kami pas-pasan. Suami harus mencuri waktu bekerja sebagai ahli konstruksi di pabrik kereta api. Ia pulang jam 11 malam dan lanjut menulis disertasi. Dua sampai tiga kali seminggu ia berjalan kaki sejauh 15 km ke tempat kerja. Sepatunya berlubang dan hanya ditambal ketika musim dingin. Ketika hamil anak pertama, saya belajar menjahit untuk menghemat biaya. Lama-lama jahitan saya tidak jelek. Saya bisa memperbaiki yang rusak, membuat pakaian bayi, dan menjahit pakaian dalam persiapan musim dingin. Prioritas kami sebelum Ilham lahir adalah membeli mesin jahit. Tidak ada uang kecuali untuk membeli mesin jahit,” tulis Ainun. Ia berkata harus melakukan segala sesuatunya sendiri agar sang suami bisa memusatkan perhatian pada yang tertulis. “Hidup berat, tapi manis.” Kebahagiaan Ainun tiba di malam hari saat ia dan Habibie bisa menjalani aktivitas masing-masing di ruangan yang sama. Tulisan itu adalah satu dari sedikit kata Ainun tentang kehidupan pribadi Ainun yang dimuat di media massa. Makmur berkata, Ainun bukan orang yang nyaman diwawancarai tentang topik selain aktivitas organisasi yang Didirikannya, semisal Orbit, lembaga penyedia beasiswa bagi murid-murid yang kurang mampu. Akhirnya setelah anak-anak mereka cukup besar untuk bisa dititipkan kepada pengasuhnya, Ainun baru bisa ikut membantu ekonomi keluarga dengan bekerja sebagai dokter anak di sebuah rumah sakit di Hamburg. Dengan pekerjaan itu, Ainun dapat mandiri dengan gaji yang hampir menyamai Rudy.“Saya bisa membantu suami membeli tanah dan rumah di Kakerbeck,” ungkap Ainun dalam memoarnya yang bertajuk “Tahun-tahun Pertama”, yang terhimpun dalam Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan di Mata Orang-orang Terdekat (hlm. 130). Tapi dua tahun setelahnya Ainun justru memutuskan untuk berhenti bekerja. Keputusan itu diambil saat Thareq, anak bungsunya, sakit keras. Ketika itu ada gejolak dalam dirinya, ia merasa bisa mengurus anak orang lain tapi lalai dalam mengurus anaknya sendiri. Saat Badai Menghantam Habibie Kekuatan cinta antara Habibie dan Ainun memang tak perlu diragukan lagi, keduanya bisa saling mendukung dan melalui masa sulit bersama. Bahkan saat Ainun di vonis dokter menderita kanker ovarium kala itu. Saat itu Hasri Ainun Besari menjalani pemeriksaan MRI dokter menyatakan Ainun menderita kanker ovarium stadium lanjut. Mendengar hal itu Habibie lantas menelepon Duta Besar Jerman di Jakarta. Ia meminta agar dibuatkan visa untuk berkunjung ke Jerman dalam beberapa jam ke depan. “Harus jadi hari ini juga. Saya harus berangkat ke Jerman,” katanya kembali kata-kata tersebut ke sang duta besar. Ia mengucap lagi kalimat tersebut saat menjadi bintang tamu acara bincang santai Rosi di Kompas TV. Sang duta besar kebingungan. Habibie tetap memaksa. Ainun sakit keras dan Habibie baru saja mengetahui hal itu. Usai MRI, Ainun yang telah sadar mencoba menenangkan dengan berkata pada suaminya bahwa tidak ada hal yang perlu dipikirkan. Namun Habibie menjawab dengan kata “ovarium stadium 3-4,” pendengaran Ainun hanya teringat, ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kondisi kesehatannya. “Saya tidak mau mati di luar negeri,” kata Ainun kepada Habibie. Ainun bersedia pergi bila sang suami berjanji akan membawa dirinya kembali ke Jakarta pada Desember 2010 agar bisa menghadiri rapat Bank Mata, organisasi yang bergerak di bidang donor mata bagi para tunanetra. Ainun aktif di sana. Ia yang membuat lembaga ciptaan Tien Soeharto itu kembali berfungsi. Habibie siap memegang komitmen tersebut. Namun janji itu urung ditepatinya, Ainun wafat pada 24 Maret 2010 di Jerman setelah menjalani sembilan kali operasi. Selama sakit tak sedikitpun Habibie meninggalkan Ainun, begitu pula saat Ainun meninggal. Ini menjadi hantaman badai besar bagi kehidupan Habibie. Setiap hari selama 100 hari pertama, Habibie ziarah ke Makam sang isteri. Setiap malam ia tidur ditemani anak dan cucu. Apalagi setelahnya selama seminggu sekali ia tetap mengunjungi makam isterinya di Taman Makam Pahlawan Kalibata untuk mengganti bunga yang mulai berbaring di atas Makam Ainun.Kepedihan ditinggal istri membuat Habibie menderita penyakit psikosomatis. Dokter berkata, bila Habibie tidak melakukan apapun untuk tubuhnya, ia bisa mengikuti Ainun dalam waktu tiga bulan. “Bapak kehilangan orang yang bisa melindunginya. Ibu punya insting yang tajam. Dia bisa membisikkan Bapak, menjauhkannya dari hal-hal jahat yang muncul di sekitarnya. Pasangan ini bisa memberi nilai untuk satu sama lain. Pernikahan adalah kerja keras dan tidak semuanya berakhir dengan baik. Ibu dan Bapak adalah dua orang cerdas dan dewasa sehingga mereka bisa melalui ini,” kata Gina S. Noer, penulis skenario film Habibie & Ainun. Habibie memilih bangkit dan berusaha menyembuhkan diri dengan menulis kisahnya bersama Ainun. Buku berjudul Habibie & Ainun terbit pada bulan November 2010. Saat itu Hasri Ainun Besari menjalani pemeriksaan MRI dokter menyatakan Ainun menderita kanker ovarium stadium lanjut. Mendengar hal itu Habibie lantas menelepon Duta Besar Jerman di Jakarta. Ia meminta agar dibuatkan visa untuk berkunjung ke Jerman dalam beberapa jam ke depan. “Harus jadi hari ini juga. Saya harus berangkat ke Jerman,” katanya kembali kata-kata tersebut ke sang duta besar. Ia mengucap lagi kalimat tersebut saat menjadi bintang tamu acara bincang santai Rosi di Kompas TV. Sang duta besar kebingungan. Habibie tetap memaksa. Ainun sakit keras dan Habibie baru saja mengetahui hal itu. Usai MRI, Ainun yang telah sadar mencoba menenangkan dengan berkata pada suaminya bahwa tidak ada hal yang perlu dipikirkan. Namun Habibie menjawab dengan kata “ovarium stadium 3-4,” pendengaran Ainun hanya teringat, ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kondisi kesehatannya. “Saya tidak mau mati di luar negeri,” kata Ainun kepada Habibie. Ainun bersedia pergi bila sang suami berjanji akan membawa dirinya kembali ke Jakarta pada Desember 2010 agar bisa menghadiri rapat Bank Mata, organisasi yang bergerak di bidang donor mata bagi para tunanetra. Ainun aktif di sana. Ia yang membuat lembaga ciptaan Tien Soeharto itu kembali berfungsi. Habibie siap memegang komitmen tersebut. Namun janji itu urung ditepatinya, Ainun wafat pada 24 Maret 2010 di Jerman setelah menjalani sembilan kali operasi. Selama sakit tak sedikitpun Habibie meninggalkan Ainun, begitu pula saat Ainun meninggal. Ini menjadi hantaman badai besar bagi kehidupan Habibie. Setiap hari selama 100 hari pertama, Habibie ziarah ke Makam sang isteri. Setiap malam ia tidur ditemani anak dan cucu.Apalagi setelahnya selama seminggu sekali ia tetap mengunjungi makam isterinya di Taman Makam Pahlawan Kalibata untuk mengganti bunga yang mulai berbaring di atas Makam Ainun. Kepedihan ditinggal istri membuat Habibie menderita penyakit psikosomatis. Dokter berkata, bila Habibie tidak melakukan apapun untuk tubuhnya, ia bisa mengikuti Ainun dalam waktu tiga bulan. “Bapak kehilangan orang yang bisa melindunginya. Ibu punya insting yang tajam. Dia bisa membisikkan Bapak, menjauhkannya dari hal-hal jahat yang muncul di sekitarnya. Pasangan ini bisa memberi nilai untuk satu sama lain. Pernikahan adalah kerja keras dan tidak semuanya berakhir dengan baik. Ibu dan Bapak adalah dua orang cerdas dan dewasa sehingga mereka bisa melalui ini,” kata Gina S. Noer, penulis skenario film Habibie & Ainun. Habibie memilih bangkit dan berusaha menyembuhkan diri dengan menulis kisahnya bersama Ainun. Buku berjudul Habibie & Ainun terbit pada bulan November 2010. Saat itu Hasri Ainun Besari menjalani pemeriksaan MRI dokter menyatakan Ainun menderita kanker ovarium stadium lanjut. Mendengar hal itu Habibie lantas menelepon Duta Besar Jerman di Jakarta. Ia meminta agar dibuatkan visa untuk berkunjung ke Jerman dalam beberapa jam ke depan. “Harus jadi hari ini juga. Saya harus berangkat ke Jerman,” katanya kembali kata-kata tersebut ke sang duta besar. Ia mengucap lagi kalimat tersebut saat menjadi bintang tamu acara bincang santai Rosi di Kompas TV. Sang duta besar kebingungan. Habibie tetap memaksa. Ainun sakit keras dan Habibie baru saja mengetahui hal itu. Usai MRI, Ainun yang telah sadar mencoba menenangkan dengan berkata pada suaminya bahwa tidak ada hal yang perlu dipikirkan. Namun Habibie menjawab dengan kata “ovarium stadium 3-4,” pendengaran Ainun hanya teringat, ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kondisi kesehatannya. “Saya tidak mau mati di luar negeri,” kata Ainun kepada Habibie. Ainun bersedia pergi bila sang suami berjanji akan membawa dirinya kembali ke Jakarta pada Desember 2010 agar bisa menghadiri rapat Bank Mata, organisasi yang bergerak di bidang donor mata bagi para tunanetra. Ainun aktif di sana. Ia yang membuat lembaga ciptaan Tien Soeharto itu kembali berfungsi. Habibie siap memegang komitmen tersebut. Namun janji itu urung ditepatinya, Ainun wafat pada 24 Maret 2010 di Jerman setelah menjalani sembilan kali operasi. Selama sakit tak sedikitpun Habibie meninggalkan Ainun, begitu pula saat Ainun meninggal. Ini menjadi hantaman badai besar bagi kehidupan Habibie. Setiap hari selama 100 hari pertama, Habibie ziarah ke Makam sang isteri.Setiap malam ia tidur ditemani anak dan cucu. Apalagi setelahnya selama seminggu sekali ia tetap mengunjungi makam isterinya di Taman Makam Pahlawan Kalibata untuk mengganti bunga yang mulai berbaring di atas Makam Ainun. Kepedihan ditinggal istri membuat Habibie menderita penyakit psikosomatis. Dokter berkata, bila Habibie tidak melakukan apapun untuk tubuhnya, ia bisa mengikuti Ainun dalam waktu tiga bulan. “Bapak kehilangan orang yang bisa melindunginya. Ibu punya insting yang tajam. Dia bisa membisikkan Bapak, menjauhkannya dari hal-hal jahat yang muncul di sekitarnya. Pasangan ini bisa memberi nilai untuk satu sama lain. Pernikahan adalah kerja keras dan tidak semuanya berakhir dengan baik. Ibu dan Bapak adalah dua orang cerdas dan dewasa sehingga mereka bisa melalui ini,” kata Gina S. Noer, penulis skenario film Habibie & Ainun. Habibie memilih bangkit dan berusaha menyembuhkan diri dengan menulis kisahnya bersama Ainun. Buku berjudul Habibie & Ainun terbit pada bulan November 2010. Ia mengucap lagi kalimat tersebut saat menjadi bintang tamu acara bincang santai Rosi di Kompas TV. Sang duta besar kebingungan. Habibie tetap memaksa. Ainun sakit keras dan Habibie baru saja mengetahui hal itu. Usai MRI, Ainun yang telah sadar mencoba menenangkan dengan berkata pada suaminya bahwa tidak ada hal yang perlu dipikirkan. Namun Habibie menjawab dengan kata “ovarium stadium 3-4,” pendengaran Ainun hanya teringat, ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kondisi kesehatannya. “Saya tidak mau mati di luar negeri,” kata Ainun kepada Habibie. Ainun bersedia pergi bila sang suami berjanji akan membawa dirinya kembali ke Jakarta pada Desember 2010 agar bisa menghadiri rapat Bank Mata, organisasi yang bergerak di bidang donor mata bagi para tunanetra. Ainun aktif di sana. Ia yang membuat lembaga ciptaan Tien Soeharto itu kembali berfungsi. Habibie siap memegang komitmen tersebut. Namun janji itu urung ditepatinya, Ainun wafat pada 24 Maret 2010 di Jerman setelah menjalani sembilan kali operasi. Selama sakit tak sedikitpun Habibie meninggalkan Ainun, begitu pula saat Ainun meninggal. Ini menjadi hantaman badai besar bagi kehidupan Habibie. Setiap hari selama 100 hari pertama, Habibie ziarah ke Makam sang isteri. Setiap malam ia tidur ditemani anak dan cucu. Apalagi setelahnya selama seminggu sekali ia tetap mengunjungi makam isterinya di Taman Makam Pahlawan Kalibata untuk mengganti bunga yang mulai berbaring di atas Makam Ainun. Kepedihan ditinggal istri membuat Habibie menderita penyakit psikosomatis.Dokter berkata, bila Habibie tidak melakukan apapun untuk tubuhnya, ia bisa mengikuti Ainun dalam waktu tiga bulan. “Bapak kehilangan orang yang bisa melindunginya. Ibu punya insting yang tajam. Dia bisa membisikkan Bapak, menjauhkannya dari hal-hal jahat yang muncul di sekitarnya. Pasangan ini bisa memberi nilai untuk satu sama lain. Pernikahan adalah kerja keras dan tidak semuanya berakhir dengan baik. Ibu dan Bapak adalah dua orang cerdas dan dewasa sehingga mereka bisa melalui ini,” kata Gina S. Noer, penulis skenario film Habibie & Ainun. Habibie memilih bangkit dan berusaha menyembuhkan diri dengan menulis kisahnya bersama Ainun. Buku berjudul Habibie & Ainun terbit pada bulan November 2010. Ia mengucap lagi kalimat tersebut saat menjadi bintang tamu acara bincang santai Rosi di Kompas TV. Sang duta besar kebingungan. Habibie tetap memaksa. Ainun sakit keras dan Habibie baru saja mengetahui hal itu. Usai MRI, Ainun yang telah sadar mencoba menenangkan dengan berkata pada suaminya bahwa tidak ada hal yang perlu dipikirkan. Namun Habibie menjawab dengan kata “ovarium stadium 3-4,” pendengaran Ainun hanya teringat, ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kondisi kesehatannya. “Saya tidak mau mati di luar negeri,” kata Ainun kepada Habibie. Ainun bersedia pergi bila sang suami berjanji akan membawa dirinya kembali ke Jakarta pada Desember 2010 agar bisa menghadiri rapat Bank Mata, organisasi yang bergerak di bidang donor mata bagi para tunanetra. Ainun aktif di sana. Ia yang membuat lembaga ciptaan Tien Soeharto itu kembali berfungsi. Habibie siap memegang komitmen tersebut. Namun janji itu urung ditepatinya, Ainun wafat pada 24 Maret 2010 di Jerman setelah menjalani sembilan kali operasi. Selama sakit tak sedikitpun Habibie meninggalkan Ainun, begitu pula saat Ainun meninggal. Ini menjadi hantaman badai besar bagi kehidupan Habibie. Setiap hari selama 100 hari pertama, Habibie ziarah ke Makam sang isteri. Setiap malam ia tidur ditemani anak dan cucu. Apalagi setelahnya selama seminggu sekali ia tetap mengunjungi makam isterinya di Taman Makam Pahlawan Kalibata untuk mengganti bunga yang mulai berbaring di atas Makam Ainun. Kepedihan ditinggal istri membuat Habibie menderita penyakit psikosomatis. Dokter berkata, bila Habibie tidak melakukan apapun untuk tubuhnya, ia bisa mengikuti Ainun dalam waktu tiga bulan. “Bapak kehilangan orang yang bisa melindunginya. Ibu punya insting yang tajam. Dia bisa membisikkan Bapak, menjauhkannya dari hal-hal jahat yang muncul di sekitarnya. Pasangan ini bisa memberi nilai untuk satu sama lain.Pernikahan adalah kerja keras dan tidak semuanya berakhir dengan baik. Ibu dan Bapak adalah dua orang cerdas dan dewasa sehingga mereka bisa melalui ini,” kata Gina S. Noer, penulis skenario film Habibie & Ainun. Habibie memilih bangkit dan berusaha menyembuhkan diri dengan menulis kisahnya bersama Ainun. Buku berjudul Habibie & Ainun terbit pada bulan November 2010. Ainun aktif di sana. Ia yang membuat lembaga ciptaan Tien Soeharto itu kembali berfungsi. Habibie siap memegang komitmen tersebut. Namun janji itu urung ditepatinya, Ainun wafat pada 24 Maret 2010 di Jerman setelah menjalani sembilan kali operasi. Selama sakit tak sedikitpun Habibie meninggalkan Ainun, begitu pula saat Ainun meninggal. Ini menjadi hantaman badai besar bagi kehidupan Habibie. Setiap hari selama 100 hari pertama, Habibie ziarah ke Makam sang isteri. Setiap malam ia tidur ditemani anak dan cucu. Apalagi setelahnya selama seminggu sekali ia tetap mengunjungi makam isterinya di Taman Makam Pahlawan Kalibata untuk mengganti bunga yang mulai berbaring di atas Makam Ainun. Kepedihan ditinggal istri membuat Habibie menderita penyakit psikosomatis. Dokter berkata, bila Habibie tidak melakukan apapun untuk tubuhnya, ia bisa mengikuti Ainun dalam waktu tiga bulan. “Bapak kehilangan orang yang bisa melindunginya. Ibu punya insting yang tajam. Dia bisa membisikkan Bapak, menjauhkannya dari hal-hal jahat yang muncul di sekitarnya. Pasangan ini bisa memberi nilai untuk satu sama lain. Pernikahan adalah kerja keras dan tidak semuanya berakhir dengan baik. Ibu dan Bapak adalah dua orang cerdas dan dewasa sehingga mereka bisa melalui ini,” kata Gina S. Noer, penulis skenario film Habibie & Ainun. Habibie memilih bangkit dan berusaha menyembuhkan diri dengan menulis kisahnya bersama Ainun. Buku berjudul Habibie & Ainun terbit pada bulan November 2010. Ainun aktif di sana. Ia yang membuat lembaga ciptaan Tien Soeharto itu kembali berfungsi. Habibie siap memegang komitmen tersebut. Namun janji itu urung ditepatinya, Ainun wafat pada 24 Maret 2010 di Jerman setelah menjalani sembilan kali operasi. Selama sakit tak sedikitpun Habibie meninggalkan Ainun, begitu pula saat Ainun meninggal. Ini menjadi hantaman badai besar bagi kehidupan Habibie. Setiap hari selama 100 hari pertama, Habibie ziarah ke Makam sang isteri. Setiap malam ia tidur ditemani anak dan cucu. Apalagi setelahnya selama seminggu sekali ia tetap mengunjungi makam isterinya di Taman Makam Pahlawan Kalibata untuk mengganti bunga yang mulai berbaring di atas Makam Ainun.Kepedihan ditinggal istri membuat Habibie menderita penyakit psikosomatis. Dokter berkata, bila Habibie tidak melakukan apapun untuk tubuhnya, ia bisa mengikuti Ainun dalam waktu tiga bulan. “Bapak kehilangan orang yang bisa melindunginya. Ibu punya insting yang tajam. Dia bisa membisikkan Bapak, menjauhkannya dari hal-hal jahat yang muncul di sekitarnya. Pasangan ini bisa memberi nilai untuk satu sama lain. Pernikahan adalah kerja keras dan tidak semuanya berakhir dengan baik. Ibu dan Bapak adalah dua orang cerdas dan dewasa sehingga mereka bisa melalui ini,” kata Gina S. Noer, penulis skenario film Habibie & Ainun. Habibie memilih bangkit dan berusaha menyembuhkan diri dengan menulis kisahnya bersama Ainun. Buku berjudul Habibie & Ainun terbit pada bulan November 2010.
Baca selengkapnya di artikel "Kisah Cinta BJ Habibie dan Ainun Berawal dari Obrolan di Teras", https://tirto.id/ehWU
Tanah surga